Daging Buatan Dari Kulit Cempedak Alias Mandai

Daging Buatan Dari Kulit Cempedak Alias Mandai

Daftarkulinerindonesia.web.id – Pulau Kalimantan atau secara internasional lebih dikenal sebagai Borneo, telah lama diidentikkan masyarakat dengan lebatnya bentang hutan hujan tropis berikut kekayaan dan keragaman adat istiadat serta budaya khas suku-suku bangsa yang mendiaminya.

Pulau Kalimantan atau secara internasional lebih dikenal sebagai Borneo, telah lama diidentikkan masyarakat dengan lebatnya bentang hutan hujan tropis berikut kekayaan dan keragaman adat istiadat serta budaya khas suku-suku bangsa yang mendiaminya.

Fakta diatas memang bukan isapan jempol semata! Meskipun kesadaran masyarakat akan kekayaan alam dan upaya pelestariannya, secara faktual kini terus berpacu dengan degradasi alam akibat buruknya manajemen eksploitasi (pertambangan) berbagai mineral alam di perut bumi Kalimantan.

Kekayaan Budaya Kalimantan Selatan

Sebagian besar, ragam kekayaan budaya masyarakat Pulau Kalimantan mempunyai ikatan serta kedekatan yang begitu kuat dengan alam dan lingkungannya, begitu juga dengan masyarakat Kalimantan Selatan yang secara mayoritas penduduknya merupakan suku Banjar.

Kedekatan budaya masyarakat Banjar dengan alam, salah satunya bisa kita lihat dan buktikan dari ragam kuliner tradisionalnya yang semuanya menunjukkan eratnya hubungan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) yang dibangun oleh masyarakat Banjar dengan alam lingkungannya..

masyarakat Banjar juga mempunyai beragam jenis kuliner unik dan khas yang kesemuanya berakar dari kedekatan budaya masyarakat dengan alam lingkungannya, salah satunya yang sangat populer adalah “mandai atau manday”.

Baca Juga : Mengenal Lebih Jauh Tempoyak

Mandai, “Daging Buatan” Multirasa dan Multiguna

Mandai atau Manday merupakan bahan kuliner hasil olahan dari daging kulit tiwadak (cempedak; Artocarpus integer) yang direndam dalam air garam (fermentasi) untuk periode waktu tertentu, minimal empat hari sampai satu tahun keatas. Intinya, semakin lama direndam dalam cairan garam maka bau, citarasa dan tekstur khasnya yang mirip daging akan semakin kuat.

Daya tahan alami mandai sebagai bahan pangan yang bisa lebih dari satu tahun inilah yang saya sebut sebagai multiguna, karena selain sebagai penjaga ketahanan perut alias sebagai bahan pangan (lauk-pauk), mandai juga berperan sebagai penjaga ketahanan pangan khas masyarakat Banjar.

Tidak heran, jika di Kota Banjarmasin sedang banjir buah cempedak dari hulu sungai di pedalaman, maka harga kulit cempedak jauh lebih mahal dari buah cempedaknya sendiri yang bau harumnya sangat tajam.

Bahkan, untuk menghindari pembusukan kulit, banyak para pedagang yang mengambil buahnya terlebih dulu untuk dijual murah, kalau tidak laku maka digratiskan dan terakhir, kalau semua orang sudah bosan makan cempedak maka bisa jadi malah dibuang buahnya.

Output dari proses fermentasi yang disebut mandai ini mempunyai cirikhas pada teksturnya yang kenyal mirip daging dan citarasanya yang benar-benar unik, karena memunculkan multirasa asin, asam dan manis alami dari rasa bawaan buah. Uniknya lagi bau khas mandai biasa dijadikan urang Banjar sebagai salah satu booster atau penguat terbaik untuk menggugah selera makan.

Seperti layaknya daging, Mandai bisa diolah lagi menjadi berbagai masakan atau kuliner kegemaran masyarakat, mulai dari yang paling sederhana dengan cara digoreng seperti menggoreng empal daging, sampai dimasak dengan bumbu komplit khas nusantara seperti masakan bumbu balado, rendang, sambal goreng, oseng-oseng, gudeg, lodeh bahkan juga dibuat keripik, baik diolah sebagai bahan tunggal maupun di kombinasi dengan bahan-bahan lain.

Related posts