Kue Lompong Khas Kutoarjo

Kue Lompong Khas Kutoarjo

Daftarkulinerindonesia.web.id – Disebuah rumah kuno khas Cina bercat putih di tengah kota Kutoarjo. Sirap-sirap kayu warna hijau tua menutup muka bangunan di Jalan Pangeran Diponegoro 59. Papan etalase bertuliskan menjual kue lompong “King” tampak dari luar.

Disanalah salah satu toko kue lompong tertua yang keberadaannya masih terkenal hingga kini. Karena sangat legendarisnya kue lompong “King” ini, membuat pakar kuliner almarhum Bondan Winarno pernah berkujung kesana.

Sekilas dari luar, kue lompong tak tampak seperti jajanan kue pasar lainnya yang berwarna cerah. Kue lompong memang berwarna hitam legam. Namun, ketika dibelah tengahnya, kue lompong memiliki isi berwarna coklat.

Pemilik toko lompong “King”, Ruth Sarijani Gondo Santoso, mengatakan kue lompong khas kutoarjo dibuat dari bahan-bahan seperti batang daun talas atau lompong, tepung merang (tangkai padi yang kering), tepung ketan, dan gula pasir. Sementara, isinya dari tumbukan kacang tanah.

”Kalau masih panas, kue lompong itu memang kenyal, kalau dingin agak lembek atau kenyal. Dan disini kami menjaga betul kualitas bahan. Kue kami bebas bahan pengawet,” kata perempuan yang berusia 72 tahun itu saat ditemui di tokonya beberapa waktu lalu.

Perempuan berdarah Tionghoa inipun menambahkan bahwa kemungkinan kue lompong termasuk penganan yang telah mengalami asimilasi antara kuliner lokal dan Tiongkok. Ruth mengatakan usahanya itu warisan dari leluhurnya. Menurut dia, kue lompong “King” ada di Kutoarjo sejak tahun 1930. Namun Ruth baru meneruskan usaha milik leluhurnya itu sejak 1958.

“Kami juga tidak menyetor kue ini ke toko-toko lain karena kami khawatir dicampur bahan pengawet. Jadi satu-satunya kue lompong yang asli ya ada disini,” tegas Ruth.

Proses membuat kue lompong dikatakan Ruth terbilang gampang-gampang susah. Kue lompong dimasak dengan cara dikukus.

Baca Juga : Bubur Pedas Khas Sambas

Batang daun talas sebagai bahan baku utama kue lompong didapatkan dari penduduk yang tinggal di sekitar Kutoarjo. Warga setempat biasanya juga bisa mendapatkan batang daun talas di pasar-pasar di Kutoarjo. Selanjutnya batang daun talas itu dikupas bersih lalu dipotong kecil-kecil. Bahan dasar itu direndam hingga terbebas dari getah. Batang daun talas lalu direbus hingga menjadi bubur.

Setelah masak, batang daun talas yang telah menjadi bubur disaring untuk diambil sarinya hingga menghasilkan warna kehitaman. Untuk mendapatkan warna hitam yang lebih pekat, adonan itu dicamput tepung merang atau bubuk batang padi yang dibakar.

Adonan tersebut lalu diaduk dan diberi minyak kelapa atau goreng agar tak lengket saat dikukus. Setelah merata, adonan kue lompong dikukus dengan bungkusan daun pisang kering atau klaras. Adonan kue lompong dengan isi kacang tanah itu lalu dikukus selama kurang lebih dua jam.

Dijual Rp 3.500 per biji, kue lompong “King” dikatakan Ruth banyak diburu pembeli untuk oleh-oleh saat bepergian ke Singapura, Amerika Serikat, dan Jerman. Pembelinya, kebanyakan berasal dari Semarang, Yogyakarta, dan Magelang.

“Biasanya toko kami ramai pembeli pada akhir pekan. Saat itu banyak yang beli untuk oleh-oleh. Ada beberapa kali yang kesini bilang kuenya akan dibawa ke luar negeri buat saudara-saudara. Dan kebetulan kue lompong disini bisa awet sampai 10 hari juga soalya,” jelas Ruth.

Related posts