Kuliner Nasi Gandul

Kuliner Nasi Gandul

Kuliner Nasi Gandul – Ada satu kuliner yang wajib kalian cicip ketika berkunjung ke jawa tengah. Nasi liwet Nasi gandul ?, semua orang pasti pernah mendengar namun tidak pernah mencicipinya kan. dari nama Gandul, merupakan ungkapan dalam bahasa Jawa yang berarti menggantung. Tapi, Nasi Gandul, bukanlah nasi yang digantung.

Adalah Pak Meled, warga asli Desa Gajahmati, yang menjadi pelopor kuliner unik ini.

Konon, pada tahun 1955, Pak Meled berjualan berkeliling desa menggunakan pikulan. Dia berjualan nasi dengan lauk empal atau daging sapi bumbu bacem yang kemudian disiram kuah di atasnya. Nasi tersebut tidak disajikan di atas piring, melainkan di ‘pincuk’ daun pisang dan dimakan menggunakan ‘suru’, sendok yang juga dibuat dari daun pisang.

Dimasa itu, seporsi Nasi Gandul dihargai Rp7000. Itu sudah komplit, seporsi Nasi Gandul dan teh hangat.

Tapi, bagi masyarakat Jawa, harga tersebut terbilang mahal. Jadilah, konsumen Pak Meled kebanyakan kaum Singkek, atau keturunan Tionghoa yang bermukim di Pati dan banyak berprofesi sebagai pedagang.

“Dulu, tidak ada orang Jawa yang makan Nasi Gandul. Harganya mahal, nasi dan daging itu makanan mewah,” kata Sutopo, menantu Pak Meled, yang meneruskan usaha Nasi Gandul.

Nama Nasi Gandul sendiri lahir karena cara Pak Meled berjualan. Dia memikul bakul nasi dan kuali dengan berjalan. Dari jauh, terlihat nasi dan kuali itu ‘gondal-gandul’ atau bergoyang-goyang. Dari situlah, nama Nasi Gandul bermula.

Nasi Gandul menjadi tenar berkat seorang ‘Sepuh Pati’ bernama Mbah Rono, yang menganjurkan orang-orang yang datang kepadanya meminta nasihat, untuk mencoba Nasi Gandul Pak Meled.

Baca Juga :

“Itu sekitar tahun 1965,” tutur Sutopo.

Dari situlah, Nasi Gandul mulai dikenal banyak orang. Banyak orang yang jatuh cinta dengan rasanya yang unik, kombinasi antara gulai dan semur daging. Banyaknya konsumen yang penasaran dengan Nasi Gandul, membuat beberapa tetangga Pak Meled di Desa Gajahmati terinspirasi. Mereka pun belajar cara membuatnya dan kemudian ikut berjualan.

“Ada beberapa tetangga yang belajar sama bapak, dan lalu ikut jualan Gandul. Jadilah Desa Gajahmati terkenal sebagai penghasil Nasi Gandul,” terang Sutopo, yang menyebut kini terdapat lebih dari 200 penjual Nasi Gandul di Pati.

Related posts